PEMBINAAN PENGEMBANGAN BIBIT JAMUR TIRAM F0, F1 DAN F2 DI DESA BULUREJO KECAMATAN PURWOHARJO KABUPATEN BANYUWANGI

  • Khoirul Bariyyah Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
  • Ahmad Hadi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
  • Titis Sugintiningtyas Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Keywords: kontaminasi, bibit, jamur, sterilisasi, LAFC

Abstract

Desa Bulurejo Kec. Purwoharjo Kab.Banyuwangi memiliki suhu antara 28-32 °C.Pada kisaran suhu tersebut, jamur tiram dapat tumbuh dengan baik. Potensi wilayah yang dimiliki Desa Bulurejo menyebabkan petani mulai banyak mengembangkan jamur tiram yang  tergabung pada kelompok tani “SukaMakmur”. Tahapan budidaya jamur yang dikerjakan kelompok tani Suka Makmur yaitu membuat biakan murni (F0) menggunakan media ekstrak kentang, memindahkan miselium biakan murni F0 ke media jagung yang sudah disterilisasi untuk menghasilkan bibit F1, memindahkan miselium bibit F1 ke media jagung yang sudah disterilisasi untuk menghasilkan bibit F2, pembuatan dan sterilisasi baglog, kemudian inokulasi bibit F2 ke baglog, pembesaran jamur, pemanenan dan pemasaran. Kendala yang dihadapi yaitu sering terjadi kontaminasi pada pembibitan jamur tiram baik F0, F1, maupun F2. Tingkat kontaminasi pada F0 mencapai 75%, F1 70%, dan F2 sebesar 40%. Hal ini terjadi karena alat yang digunakan untuk inokulasi bibit jamur tidak standart yaitu menggunakan kulkas bekas yang dimodifikasi. Oleh karena itu perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan serta transfer teknologi untuk mendukung pembibitan induk jamur tiram. Tahapan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat diawali dengan kegiatan FGD (Focus Group Discussion) dengan kelompok tani jamur, pelatihan dan pendampingan dalam pembuatan media pembibitan induk jamur tiram F0, F1, dan F2. Serta pengadaan alat isolasi bibit jamur yaitu Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) kemudian dilakukan evaluasi program. Hasil dari kegiatanya itu program pelatihan, transfer teknologi (pengadaan alat LAFC) dan pendampingan dapat meningkatkan ketrampilan petani dalam melakukan isolasi dan inokulasi bibit induk jamur F0, F1, dan F2. Program pelatihan, transfer teknologi (pengadaan alat LAFC) dan pendampingan dapat meningkatkan keberhasilan produksi bibit induk jamur F0, F1, dan F2. Tingkat kontaminasi biakan murni (F0) sebesar yang awalnya 75% menurun menjadi 20%, bibit starter (F1) yang awalnya tingkat kontaminasinya  70% menurun menjadi 2%, dan bibit sebar (F2) yang awal tingkat kontaminasinya 60% menurun menjadi 10%.

Published
2019-11-13